Tampilkan postingan dengan label storytelling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label storytelling. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 April 2020

Kita hanya berliku, tidak kusut.

Karena kita sudah dewasa, aku ingin meluruskan beberapa hal padamu.

Seharusnya, ketika kita sudah dewasa, hal-hal akan menjadi lurus dengan sendirinya; dengan bantuan akal budi atau memang kedewasaan itu adalah sebuah garis lurus yang seluruh bagiannya proporsional tanpa kurang satu titik apapun, sehingga ia cenderung membosankan. Tapi, pada kasus kita, hal-hal lurus menjadi berliku – aku lebih suka memanggilnya begitu dibanding 'kusut' – entah karena akal budi kita sama berlikunya dengan pilihan-pilihan yang telah kita ambil, entah karena kita melakukan semacam penolakan untuk menjadi dewasa, atau kedewasaan itu hanyalah garis compang-camping yang ditambal dengan banyak titik sehingga terlihat lurus.

Karena kita sudah dewasa, aku ingin menghapus saja wejangan barusan tentang lurus dan berliku.
Aku akan coba masuk pada intinya saja agar keseluruhan pembicaraan ini tidak kusut.

Seharusnya, ketika kita sudah dewasa, ada hal-hal yang kita akan letakan berdasarkan skala prioritas; menjadi dewasa menyadari bahwa seluruh sistem pada dasarnya menggunakan hierarki. Apa yang kita butuhkan akan memiliki hierarki yang lebih tinggi dibandingkan dengan apa yang kita inginkan. Tapi ujung-ujungnya, yang kita butuhkan terdiri dari sekian banyak elemen yang memaksa kita memilih yang paling dibutuhkan di antara yang butuh – dan tanpa sadar kita membuat hierarki dalam hierarki. Kasta kecil dalam kasta besar. Pada kasus kita yang memang sudah berliku – sekali lagi, ini tidak kusut – kau menginginkanku.

Kau menginginkanku; aku bisa membacanya dari matamu, dari jari-jarimu yang menyentuh jari-jariku saat tidak ada yang memperhatikan, dan dari bisikanmu saat semua orang sibuk, "Nanti malam, waktu biasa". Walaupun aku berusaha sekasual mungkin menanggapinya, namun yang terjadi di dalam benakku selalu berkali-kali lipat lebih masif: Ketika kau menginginkanku, aku jadi menginginkanmu balik, dan membutuhkanmu.

Seharusnya, ketika kita sudah dewasa, kita (kurasa seharusnya) lebih toleran terhadap banyak hal; paling seringnya terhadap perbedaan dan kesenjangan. Karena hidup semakin lama akan semakin menyebalkan dan hal tersebut tidak dapat diubah, maka kita sebaiknya berkonsentrasi untuk mengubah apa yang bisa diubah, yakni daya penerimaan. Tapi, pada kasus kita yang berliku ini – atau mungkin pada kasusku saja – aku yang seharusnya sudah dewasa ini tidak bisa menerima perbedaan skala prioritas dan kesenjangan hierarki kebutuhan dan keinginan di antara kita.

Malam itu, pukul 11, aku lapar dan mengantuk berat menunggu perwujudan dari bisikanmu siang itu. Ini waktu biasamu.

Tengah malam, aku lapar berat, mengantuk berat, dan mulai mempertanyakan kenapa aku tidak memilih jadi orang dewasa yang lurus-lurus saja.

Tengah malam lewat 30 menit, aku lapar berat, mengantuk berat, dan mengoreksi diri bahwa tidak apa jika aku tidak jadi orang dewasa lurus, tapi kenapa aku harus memelintir diri dalam kekusutan bersamamu?

Pagi itu, pukul 1, aku lapar berat, mengantuk berat, dan mengoreksi diri bahwa aku tak seharusnya begini.

Pada kasus kita yang memang sudah berliku karena akal budi kita yang berliku, kita tidak bisa punya pakem yang lurus. Tidak setiap mata yang terluka dibalas melukai mata. Tidak setiap ditumpahkan kasih, dilemparkan balik beri.
Tidak setiap hal harus setara.
Tidak setiap rasa harus saling.

Aku bebas menginginkanmu bahkan membutuhkanmu (sekalipun kulakukan itu dibalut dengan berlapis-lapis pertahananku agar kamu tak begitu berbesar hati), tapi kamu boleh tidak melakukannya balik.
Aku meletakanmu di hierarki yang cukup tinggi (tentu saja aku tidak membiarkanmu tahu), tapi kamu boleh meletakanku dimana saja. 

Kita bisa saja berhenti pada titik komensalisme, tidak perlu mutual. Tidak harus sama beri. Tidak harus sama terima. Kita bukan hanya tidak punya pakem yang lurus  – kita tidak punya pakem sama sekali.

Pukul 1 lewat setengah jam, telepon berdering, kulihat namamu sebagai perwujudan bisikan siang itu. Kutunggu 3 detik, kemudian kuangkat panggilanmu, pura-pura tenang dan mengantuk. Kau bilang kau rindu, "tunggu aku", katamu lagi.
Di seberang teleponmu, rasionalisasi perlakuanmu padaku yang kubuat setengah jam lalu mendadak buyar ditendang egoku, yang mungkin dari awal sudah agak terluka namun kunormalkan saja supaya tetap terasa nyaman. 
"Aku mengantuk, mungkin lain kali," sahutku, masih pura-pura. Rasionalisasi yang kubuat semakin irelevan ketika aku mendengar kau bilang, "Oke, lain kali", lalu telepon ditutup.

Saat itu, rasionalisasiku diseruduk habis oleh egoku yang menjelma sederetan pertanyaan (yang seharusnya bersifat) retorik mengenai etika bersosialisasi:  
"Apakah 'membuat seseorang menunggu' bukan jenis kesalahan yang membutuhkan kata maaf dalam konteks hubungan interpersonal?" 
"Apakah orang lain tidak selalu membutuhkan penjelasan terhadap perlakuan yang diterimanya?" 
Tapi, berhubung sejak awal kita memilih untuk memelintir diri bersama dalam kekusutan ini, tentu saja semua pertanyaan egoku ini yang menjadi irelevan.

Pagi itu, pukul 2, aku lapar berat dan sama sekali tidak mengantuk, kuputuskan rasionalisasiku terhadap perlakuanmu dan egoku sama-sama memenangkanku. Aku pergi keluar mencari makanan, makan dengan khidmat, dan melanggengkan ego untuk membuat status – yang dengan cepat dibalas olehmu dengan nada yang kupikir sedikit menunjukan protes, "Tadi kamu mengantuk, aku harusnya disana".

Aku memenangkan egoku lebih lanjut tanpa mengabaikan rasionalisasiku – hanya pagi ini saja – kuabaikan kata-katamu. 
Aku tak mau repot-repot membayangkan apakah kau memikirkan jawaban pertanyaan-pertanyaan retorikku atau tidak. 
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Malam tadi, semua kusut. 
Tapi aku berjanji, setelah aku kenyang dan tidur, kita akan kembali menjadi berliku saja, tidak kusut.

Kita dewasa tapi tak juga lurus, tak juga kusut. Hanya berliku.
 

Minggu, 01 September 2019

A Lifetime Has Passed, So Don't Worry

He was gone for a while
and I was in my usual quiet life,
until my phone beeped,

"Hi, what's up?," he opened the talk,
"Great, and how is your life?," I politely replied.

"I am gonna be married soon," he told me in instant.

No, you are not going to see a story full of crybabies words, no.
No, you are not going to relate with Adele's 'Someone Like You', no.

I was not surprised, life keeps going on, no matter how quiet my life seems to be.
I gave my honest words, "I am glad to hear that."

But yes, maybe some conversations can take you back for a while to the past, yes.
And yes, maybe some presence of people can help you contemplate about your life, yes.
----------------------------------------------------------------------------------------------------------

What we had was a baby's love,
we did not realize how baby it was the good thing was we took it whole-heartedly.
It was sparkling, it was daring, it was burning,
it was consuming, it was suffocating
but was pleasant.

In taking baby steps, we fell, we cried,
we were annoying, we were seeking attentions
with right ways or wrong ones.

But we can not be babies forever
we started to walk faster, we saw worlds as a big playground,
we perceived feelings and circumstances, we started to questions things.

And here comes two mentally-experiencing-adolescence kind of people,
we were fighters, we were rebellious,
we lied, we hurt,
and substitution was all we were looking for.

And we finally went to a mental phase of adulthood,
but I wondered why did not I see it in your eyes,
while you were sure you could see it clearly in my soul
The ring given was just left untouched,
why was I scared?

Did I only possess a body of a grown woman,
but a coward for a lifetime agreement?
Did I only misperceive commitment to someone
as a limitation for my upcoming plans and ambitions?

But I did not really need to seek for complicated, explainable reasons,
because sometime the answer was "it is just not"
It was just not a part of my plan
and you were just not what I expected to include;
You were just not supposed to be mine,
just like I was not supposed to be yours.

I was glad I had the courage to tell you that day
I could not see it in you
which you perceived as funny
because after all those time, I could not see it in you.

It is still funny to me,
that you can spend so much time with someone
just to conclude you can not stand together in the last minute.

Now we get older and forgive each other;
From babies to adulthood,
From a burning fire to a steady flame,
From a smothering love to a freedom to take paths.
Our lifetime has passed, so don't worry
we will be just fine.

And I wish you eternal happiness and endless love to rest your soul,
just like I wish myself the same thing.

Cheers, for the word 'eternally'.

Rabu, 14 Agustus 2019

Kebiasaan Tidur

"Kamu mendengkur. Selalu seperti itu. 

Kamu selalu beralasan bahwa dengkuran itu adalah output kelelahan hidupmu, jadi walau agak sedikit berisik, kamu minta maklum dariku. Walaupun aku mengiaskannya sebagai 'alasan', tapi dengkuranmu bukan sesuatu yang menyebalkan. Aku suka saat aku mendapati eksistensi lain dalam ruangan yang gelap ini, menandakan bahwa aku tak perlu merasa kesepian walau tak melulu bergeliat dalam dekapan.

Kita tenang dalam jarak. Selalu seperti itu. 
Kamu yang selalu terlentang menghadap langit dan aku yang selalu meringkuk menghadap dinding. Jika kupikir-pikir, lucu juga bagaimana kita tak bisa menyembunyikan apapun dari alam bawah sadar, sekalipun tabiat. 
Dalam hidup, kamu selalu menengadah menghadap masalah dan aku selalu sibuk membungkuk melindungi diri. 
Dalam kita, kamu selalu senang melihat dataran yang lapang meraya dan aku selalu sibuk ketakutan tersesat di dalamnya.

Aku ralat, kadang kita tak tenang dalam jarak. Aku tahu langitmu tak kan mau menapak tanah dan dindingku tak mampu terus tinggi merambah, tapi di antaranya mampulah kita berhimpit mencari celah. Kita berdesak dalam celah dan aku sesak oleh air mata, kemudian di punggungku hangat itu tiba-tiba menjalar,
terus hingga ke leher, 
lalu ke dada, 
hingga kemudian tangisku reda dan kita terjaga sampai pagi menjelang untuk menukar perih dengan kasih, 
serta menukar keluh dengan peluh.

Atau kadang, di punggungku hangat itu menjalar, 
terus hingga ke leher, 
lalu ke dada,
hingga kemudian tangisku reda dan kutempelkan pipiku ke pipimu, membagi basah dipermukaannya, 
untuk mendengar petuah kesukaanmu bahwa kita akan selalu baik-baik saja, asal kita tidak menyerah  
kecuali menyerah pada kantuk, dan dalam 10 menit kita kembali berdiam dalam mimpi masing-masing.

Mungkin tidak sepenuhnya berdiam karena kamu mendengkur.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ya, kamu mendengkur. Selalu seperti itu.

Kamu selalu beralasan bahwa dengkuran itu adalah output kelelahanmu, jadi walau agak sedikit berisik, kamu minta maklum dariku. Walaupun aku terus mendengarnya dan berasumsi kelelahanmu terjadi setiap hari, kuharap setidaknya lelahmu bukan karena tingkah polahku.

(Atau jika itu karenaku, kamu bisa bilang saja. Nanti kuperbaiki, tentu saja dengan bantuanmu.)"
 
-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Dengkurmu berhenti. Aku menoleh.

Kamu menatapku, aku mengedikan kepala ke layar. "Menulis lagi?", tanyamu lewat tatap, kubalas anggukan. 
Kamu mengulurkan tangan.

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Akhirnya, aku menemukan tempat pulang yang lebih nyaman daripada rentetan kata-kata.

Kadang aku juga suka malas-malasan seharian dan menggusur kamu dari peraduan yang menghanyutkan