(Mungkin bukan malam dua juga, tapi bermalam-malam berikutnya)
Aku tersenyum tipis saat melihat namamu muncul di ponselku, ia berdering keras mengagetkan.
Aku berhitung dalam hati, "Satu... Dua... Tiga... Empat... Lima...," tapi sampai akhir ia tidak berhenti berdering. Kau serius memanggilku rupanya. Aku mengangangkatnya sambil berdeham.
"Halo," kataku, "Ya, kenapa?"
"Dimana?," jawabmu cepat. Belum sempat aku menjawab lengkap, kau sudah keburu memotong.
"Aku ke sana," jawabmu tak sabar, lalu telepon ditutup.
Aku tersenyum dengan sedikit jengkel, tapi kau memang begitu. Kau jarang bertanya apa yang kurasakan, karena aku selalu menumpahkan apa yang aku pikirkan. Ketika kau berargumen dan aku diam saja, berarti aku 1) merasa dirimu benar, 2) butuh waktu untuk memikirkannya, 3) merasa argumenmu benar atau tidak benar tapi aku tidak keberatan karena tidak merasa dirugikan. Malam ini, aku diam saja karena argumenmu benar dan aku sama sekali tidak keberatan mendengarmu mengoceh sampai pagi pun.
Tidak lama kemudian, kau muncul entah dari mana, berpakaian hoodie biru tuayang itu-itu saja, celana panjang jeans, dan sandal jepit. Pesanmu selalu menyuruhku buru-buru dan aku selalu berujar, "Sebentar ya," dan keluar sedikit lebih lama dari yang kau inginkan. Mungkin kau tidak tahu (dan aku berharap kau tidak akan pernah tahu), bahwa lima sampai sepuluh menit sebelum kau membombardir ponselku dengan kata "Cepat", "Ayo", "Di depan", aku sudah sangat siap.
Penampilanku di bawah rata-rata seorang perempuan; aku tampil dengan hoodie-ku dan sepatu kets busuk yang sudah agak reyot, dengan wajah yang sedikit kurias dan bibir yang sedikit kupulas agar tidak terlalu gembel-gembel amat (walau sebenarnya aku tidak terlalu takut terlihat gembel – aku lebih takut terlihat menginginkan kedatanganmu). Aku berjalan dengan santai ke arahmu yang terlihat menggerutu sambil bilang, "Ayo" – aku suka membuatmu sedikit sebal karena menurutku itu menggemaskan. Aku duduk di belakangmu, menghirup wangimu dalam diam walau pikiranku tidak bisa diam. Wangimu maskulin – tercium seperti nutmeg dan lada – wangi perapian di tengah hutan, penuh kehangatan, pada malam hari berbintang. Rasanya aku tahu kau muncul dari mana malam ini, tapi aku tak mau banyak berpikir. Aku sudah cukup senang bisa duduk di belakangmu malam ini, tanpa peduli kau habiskan untuk apa atau dengan siapa waktu-waktu yang tak kumiliki itu.
Kau menggerutu sambil berkata bahwa kau lapar dan aku menawarkan warung kecil tempatku biasa curi-curi mengemil di malam hari. Aku memesan menu biasa; sepotong roti bakar dengan kornet dan telur, lengkap dengan teh susu hangat. Kau bingung karena tidak familiar, tapi kemudian kau memesan sepotong roti bakar dengan pisang serta cokelat dan telur mentah di dalam cangkir. Aku pikir seleramu aneh, tapi aku tidak mau berkomentar. Tidak semua yang aneh itu tidak baik. Toh kau juga sebuah keanehan yang mendadak muncul dalam hidupku; aku tidak tahu apakah kau baik atau tidak bagiku, tapi aku senang dengan anomalimu.
Pemilik warung menaruh sebuah cangkir berisi telur mentah di depanmu, kau meraih garam di sebelahku, kemudian membubuhkannya sedikit di atas telur. Setelahnya, kau menatap telur mentah itu sejenak, lalu mengaduknya pelan, dan menyeruputnya sampai habis. Aku menatapmu setengah terpukau (semua yang kurasakan akan kukurangi setengahnya, karena aku tak mau membuatmu besar kepala) – diam-diam mengagumi selera anehmu.
Aku menyeruput pelan teh susu yang kupesan kemudian tanpa sadar bersenandung pada irama lagu yang keluar dari televisi di kios. Aku lupa judul atau penyanyinya, tapi iramanya lekat pada ingatan lamaku akan kartun Minggu pagi ketika aku kecil – film kartun laki-laki yang menjadi perempuan jika tersiram air hangat.
Jatuh cinta, Ranma Ranma Ranma
Kita menjadi teman
Kita menjadi teman
Kita menjadi teman
Selamanya...
Lalu kau bersenandung bersamaku penuh semangat, melantunkan "Kita menjadi teman selamanya!", berjoget khasmu – berjoget dengan lengan patah-patah seperti Patrick Star. Tawa renyahmu terdengar setelahnya, kemudian kau mengejekku, "Dasar tua".
"Kamu juga," balasku, "Kamu bahkan lebih tua dariku sedikit."
Kau memang lebih tua dariku, tapi kelakuanmu tidak, imbuhku lagi dalam hati.
"Iya tua," ucapmu, "Tapi aku beruntung diberkahi acara televisi pagi yang seperti itu di hari Minggu. Jika aku lahir terlambat, mungkin aku tidak punya kenangan acara Minggu pagi yang bagus-bagus."
"Tidak ada acara televisi yang jelek, termasuk acara musik pagi yang norak itu, ya," sanggahku.
Lalu kau tertawa lagi, lebih keras. "Itu keren pada masanya, tetap zaman terbaik dalam hidup," katamu sambil tersenyum.
Kemudian kau berdendang dengan cengkok dan nada melayu yang mungkin terakhir kali kudengarkan dengan rutin 13 tahun yang lalu. Lagu-lagu puberku; teman sedih dan sepiku saat aku menyukai seseorang tapi tidak tahu bagaimana menyatakannya, saat aku ingin bergandengan tangan tapi orang bilang bergandengan tangan dapat membuatku hamil, saat aku ingin punya ponsel karena aku ingin tahu kabar orang yang kusukai tanpa harus menelepon dari telepon rumah dan didengarkan orang tuaku.
Setelahnya kau mengelukan yel-yel La La LaYe Ye Ye sambil berjoget dengan gaya cuci-jemur – joget yang populer sekitar 13 tahun lalu. Pemilik kios mengintip dari balik dapur dengan penasaran karena suaramu terlalu berisik dan aku melontarkan tatapan menyesal, seolah minta maaf. Kau tertawa terbahak-bahak dan tetap melanjutkan jogetmu yang jelek dan amburadul. Rasanya aku ingin membuang muka, tapi di satu sisi aku tetap ingin melihatmu melawak. Biasanya aku tak akan tertawa karena hal-hal seperti ini, tapi kau selalu menjadi anomali yang aku sukai.
Lelah tertawa, aku menyeruput teh susuku yang dari tadi baru kuhabiskan sedikit karena mulutku terlalu asyik tersenyum karena lawakanmu – yang mungkin tidak akan berefek sama padaku jika orang lain yang melakukannya. Kau bertanya lagi padaku, "Berarti kamu juga tahu artis-artis yang CD-nya akan kita dapatkan jika membeli ayam di restoran ayam itu?"
Aku mengangguk, "Ya pasti tahu," imbuhku, "Aku banyak menghabiskan waktu di restoran ayam itu, berpacaran". Kau menjulurkan lidah seolah mengejek. Aku jadi mengingat hal-hal yang sudah lama tidak kupirkan. "Aku mulai pacaran di restoran ayam itu, janjian bertemu di sana, bertengkar di sana, dan putus di sana," kataku pelan.
"Ah iya, ada lagu yang kusuka," katamu cepat. Aku menyeruput lagi tehku sambil menerawang. Bukan masa lalu yang nyaman, tapi 13 tahun sudah cukup untuk membuatnya menutup dan terlupakan.
Kutak biasa tatap matanya!
Buatku jadi gila!
Engkau dan dia mengaku saja!
Teman atau teman!
Semakin malam suaramu semakin sumbang. Aku bersyukur kau hanya menyuruput telur mentah saja, bukannya anggur merah seperti waktu itu. Mungkin jika kita berdua mabuk sekarang, kau akan teriak bernyanyi di atas meja dan aku akan tersenyum-senyum sendiri di pojok ruangan lalu tertidur – kita berdua akan di blacklist dari seluruh kios roti bakar setelahnya. Suara sumbang itu semakin membuatku terseyum semakin larut. Walaupun suara itu mengganggu ketertiban umum dan membuat kau dipukuli massa sekalipun, aku akan sukarela membawamu kabur sambil berlari dan tertawa terbahak-bahak. Pemilik warung sudah tidak lagi peduli, kau dan aku terus mengobrol sambil berbalas lirik.
Aku, 13 tahun lalu, tidak akan menyangka bahwa lagu yang membuatku bersedih akan membuatku tertawa terbahak-bahak malam ini. Sering kali aku menyaksikan orang-orang tergila-gila dengan kapsul waktu yang merupakan setumpuk kenangan yang diletakan di dalam boks atau tabung lalu dikubur, untuk dibuka bertahun-tahun kemudian. Rasanya aku tahu dimana letak keajaiban sebuah kapsul waktu – yang ajaib darinya bukanlah kenangan-kenangan yang kembali teringat setelah disimpan baik dalam kapsul, tapi tranformasi emosi yang dirasakan ketika kenangan-kenangan itu terbuka kembali. Kenangan indah yang dulu dikubur untuk dibangkitkan lagi emosi bahagianya bisa jadi menimbulkan rasa sedih di hari ini. Tapi malam ini, kenangan buruk dan sejumlah lagu sedih yang kukubur dalam sebuah kapsul dalam lobus temporal-ku menimbulkan gelak tawa berkepanjangan, yang aku tak pernah tahu bisa terjadi karenamu.
Tidak semua hal baik akan menjadi kenangan baik dan tidak semua hal buruk akan menjadi kenangan buruk. Semua erat bergantung pada waktu – dan kau yang ada di waktuku sekarang, membuat hal buruk menjadi terasa lebih baik. Oleh karenanya, kehadiran dan segala anomalimu, walaupun kadang menyusahkan, (diam-diam) sangat kusyukuri.
Malam semakin larut dan kita beranjak meninggalkan warung. Kau tidak membawa uang untuk membayar dan merengek supaya aku meminjamkan uang. Rengekanmu tidak membuatku sebal (atau mungkin belum) dan aku dengan baik hati meminjamkan uang. Memang aku selalu terlalu baik padamu, semoga kau tidak sadar, pikirku dalam hati.
Aku kembali duduk di belakangmu, kau memacu sepeda motormu dengan kecepatan pelan.
"Selera musikmu norak," celetukmu tiba-tiba. Aku terperangah di balik punggungmu. Bisa-bisanya!
"Lho, selera musikmu lebih norak lagi, jogetmu juga jelek," balasku.
Suara angin berderu pelan, menerpa pelan wajah kita. Suaramu masih jelas terdengar.
"Tapi menurutmu, mungkin tidak, kita bisa bersama?" kau bertanya. Angin seolah tak mau membantuku pura-pura tuli – suaramu terdengar jelas sekali. Aku diam sejenak.
"Mungkin tidak. Kalau bersama denganmu setiap hari, nanti aku bisa mati kesal," aku setengah serius dengan ucapanku. Aku punya keyakinan pribadi bahwa seseorang yang bisa membuatmu tertawa terbahak-bahak adalah seseorang yang juga bisa membuatmu kesal setengah mati.
Kau berjalan dengan kecepatan yang sama dalam diam. Aku menatap punggungmu, menyesap wangimu yang menguar dari balik hoodie biru tuamu. Rasanya masih seperti berkemah di tengah hutan, di depan api unggun, di bawah bintang-bintang.
"Tapi menurutku, mungkin kita bisa saja bersama-sama dan bahagia," katamu memecah keheningan.
Aku tertegun di belakangmu dan sebelum aku dapat menjawab, kau menambahkan,
"...Jika kita bertemu lebih cepat".
Aku tak tahu harus membalas apa, jadi aku memilih diam saja sambil melihat langit yang tak berbintang malam ini. Tiba-tiba kau meraih tangan kiriku, melingkarkannya pada perutmu. Aku meraba sakumu dan mencoba bercanda, "Iya, aku tahu tidak ada dompet." Tapi kau hanya diam menggenggam tanganku yang melingkar pada perutmu dengan canggung.
Malam ini, aku meneguk teh susu hangat dan kau menelan telur mentah yang dibubuhi garam bulat-bulat – tak ada anggur merah dan aksi lupa diri. Malam ini, tak ada bibir yang bersentuh tanpa sadar maupun tanpa malu, hanya ada tangan-tangan yang saling menggenggam dalam canggung tak berkesudahan. Malam ini, aku hanya berapa puluh sentimeter duduk di belakangmu, tapi pikiranku erat didekap wangi api unggun dalam gelap hutan di antah berantah.
Satu lirik bodoh kembali terngiang di pikiranku.
Jatuh cinta, Ranma Ranma Ranma
Kita menjadi teman
Kita menjadi teman
Kita menjadi teman
Selamanya...
Aku menatap punggungmu – bersyukur ia tak memiliki mata. Aku pun berharap pikiranku tak terhantar lewat jari-jari yang saling bertaut dalam hening panjang.
Apapun anomali yang terjadi dan kemungkinan apapun yang ditimbulkannya, semua itu seharusnya tidak perlu larut dibayangkan.
Aku selalu tersenyum tipis pada kepercayaanmu akan ketidaksengajaan.
Kamu berdiri di hadapanku malam itu, menerawang sambil tersenyum, mengatakan bahwa agak aneh kamu berakhir di depan rumahku malam ini dan kamu tidak pernah membayangkan ini akan terjadi. Tadi siang kita pergi menonton bioskop dengan teman-teman, kemudian pulang ke rumah masing-masing, dan di sinilah kamu malam ini – tiba-tiba tergerak menemuiku.
Aku bertanya, "Kenapa?"
Kamu menjawab, "Tidak tahu, ketidaksengajaan saja."
Aku tersenyum mendengar jawaban yang sungguh ada di awang-awang itu – tapi jawabanmu sudah kuperhitungkan dan kuterima. Sebagai orang yang diam-diam memperhatikanmu, aku tahu kamu bukan tipe yang akan keras memilih satu hal dibanding hal lain. Kamu selalu berusaha berdiri diam di tengah tali tipis – berusaha menjadi abu-abu di tengah hitam dan putih atau menjadi yang moderat di antara yang baik dan jahat.
"Mau minum?," tawarku sambil menyiapkan sloki.
"Boleh, sedikit saja," katamu. Aku tersenyum – aku lega punya teman bicara, setidaknya malam ini.
Kutuang anggur murah itu ke dalam slokiku, kemudian ke slokimu. Bukan aku tidak menghormatimu sebagai tamu, hanya saja aku suka minum. Aku menikmati momen-momen saat kepalaku jadi enteng, saat beban-beban bukannya terbang tapi malah membanjir dalam bentuk air mata. Bahkan aku menikmati situasi permissible intoxication– yakni saat terlalu banyak anggur dalam darah lalu aku jadi tidak bisa menahan hasrat buang air kecil dan bolak-balik ke toilet, dan aku menikmati bagaimana aku tetap menjalani kehidupan esok hari sekalipun dengan kondisi sakit kepala setengah mati akibat pengar. Aku suka minum, jadi aku ingin membuka sesi perjamuan ini; siapa yang menutup sesi itu urusan nanti.
Kita bersulang dan tidak ada yang lebih membahagiakan untukku malam itu daripada mendengarkan suara denting dua sloki yang bertabrakan – sebuah isyarat malam ini aku tidak harus kesepian; setidaknya akan ada dua orang meracau, mengutuk kehidupan, bahkan tertawa atau menangis bersama. Kuhabiskan satu sloki dengan satu teguk besar dan cepat, membuatmu sedikit takut dengan kemampuan minumku. Aku menuangkan lagi anggur ke dalam slokiku, berulang, dan berulang kali. Kutuang lagi, kutenggak dengan kecepatan minumku yang biasa untukku, namun luar biasa untukmu.
"Tolong minum lebih pelan," ujarmu. Aku bersandar ke tembok di belakangku, tersenyum.
"Agak pening, tapi memang begini caraku minum," imbuhku.
Kemudian aku mencondongkan tubuh ke depan, kembali meraih botol, kemudian menuangkan anggur mengisi slokimu. Kamu meneguknya pelan, walaupun kuyakin pertahanan dirimu lebih kuat daripada aku. Tiba-tiba aku tergelitik oleh pikiranku sendiri dan penilaian-penilaianku mengenaimu yang kubuat sejak sejam yang lalu, sebelum botol anggur dibuka. Aku tersenyum mendengarkan asumsi-asumsiku dalam benak yang saling bertubruk, padahal di luar aku tampak tenang – ah, aku sok tahu sekali mengenaimu.
"Kamu cantik," katamu tiba-tiba. Aku melihatmu sambil terbelalak; aku tidak pernah menduganya.
"... Mungkin karena kamu tersenyum-senyum sembil mabuk seperti itu," ujarmu lagi cepat-cepat.
Aku mengeluarkan tatapan jengkel.
"Aku cantik, saat mabuk, saat pengar, dan saat sadar. Kamu saja yang harus mabuk dulu untuk menyadarinya," gerutuku.
Kamu tertawa geli dan aku kembali menuangkan anggur untukku sendiri. Ada suatu kelegaan luar biasa mendengar tawamu. Mungkin bukan karena itu adalah kamu– tapi lebih karena aku punya lawan bicara malam ini. Aku punya seseorang yang kutuangkan minum dan menuangkanku minum. Aku punya distraksi ketika minum terlalu banyak. Aku punya pengingat batas minum agar tetap bisa fokus, entah fokus terhadap pembicaraan atau fokus pada wajahmu yang tidak kunjung memerah, tapi semakin menarik, semakin dekat, semakin wangi...
Pening, kutaruh kepalaku pada lututmu yang sedang bersila. Pening sekali, aku mual.
"Makanya jangan terlalu rakus," suaramu berdengung pelan, jauh di atas kepalaku. Aku tidak menanggapi.
Aku suka lututmu yang keras – membuat kepalaku yang mulai ringan ini seolah ditarik batu pemberat, agar tak mengawang terlalu jauh. Aku memejamkan mata. Aku suka memejamkan mata dengan kuat, begitu kuat hingga aku melihat cahaya-cahaya kecil menghampiriku dari kegelapan yang entah dimana ujungnya. Rasanya seperti perjalanan ke luar angkasa dan kau ada dalam kapsul stagnan yang menembus ruang hampa dengan kecepatan cahaya.
Aku sudah melihat kerumunan cahaya itu menghampiriku – awalnya mereka datang satu-satu, melewatiku perlahan dengan unggah-ungguh permisi, lalu mereka lewat bergerombol tanpa berbelas kasih padaku yang hanya berdiri diam saja. Aku mulai menikmati serangan itu dengan penuh kelapangan ketika tiba-tiba napasku tercekat. Aku cegukan.
Sial, aku kebanyakan minum.
Tiba-tiba kurasakan jari jemarimu memijit belakang leherku, membuatku bergidik pelan. Kamu terdiam, aku terdiam. Jarimu menekan lembut leherku; kurasakan sakit kepalaku hilang perlahan – atau mungkin bukan hilang, tapi tergantikan; dengan rasa nyaman yang bertemu sapa dengan kecanggungan, dengan penuh pertanyaan apakah ini salah satu ketidaksengajaan yang ikut mengantre dari sekian banyak ketidaksengajaan yang kau sebutkan malam ini. Kepalaku mungkin sakit dan aku mulai pengar, tapi kemampuanku memproses segala persepsi yang mengawang malam ini cukup mengejutkan. Mungkin benar, kewarasan tidak pernah meninggalkan kita dalam situasi apapun; ia hanya bersembunyi saja untuk sementara waktu.
Aku bangkit perlahan meninggalkan lututmu yang keras itu. "Sudah, sudah," ujarku, sambil menengadah menatap wajahmu – karena memang harus; aku ingin duduk tegak lagi untuk menenggak isi sloki, entah yang keberapa untuk malam ini.
Saat aku menatap wajahmu, aku berusaha mencari pipi yang memerah atau mata yang mengantuk; tapi sekeras apapun mencari, tak ada jejak ketidaksadaran pada mimikmu. Pipimu tidak merah dan bola matamu yang biasa terlihat cokelat, malam ini begitu gelap. Begitu gelap – hingga rasanya bermalam-malam suntuk dengan segudang anggur merah pun tak akan pernah selesai kuselami hingga dasarnya.
Lalu bibirmu menyapa bibirku lembut; begitu lembut seolah aku akan koyak dan lebur. Aku bermaksud menghitung ketidaksengajaan nomor berapakah bibirmu malam ini, tapi tanpa sadar aku terlalu sibuk membuka celah bibirku, berusaha menghirup lebih banyak darimu. Sesaat kemudian kau seperti tersadar bahwa aku tak akan koyak dan lebur – kau biarkan aku menghirup lebih banyak dirimu dalam satu kecupan yang panjang. Semakin kuhirup semakin kurasa tak lampias – kau tahu aku tak akan koyak dan lebur, dengan penuh keberanian kau rengkuh tubuhku.
Kita sibuk memberi dan merampas napas. Bibirmu seperti sayap kunang-kunang yang akan mati ketika pagi menjelang sekaligus seperti air laut yang mendesak patahan bumi sesaat sebelum pasang membinasakan. Pada satu momen, aku adalah serpihan debu di udara, menunggu kematian – di momen berikutnya, aku adalah badai yang ingin kau taklukan. Saat kukira kecupanmu reda, aku mencari tatapanmu dan berusaha meyakinkan diriku ini adalah rentetan ketidaksengajaan nomor sekian yang sama-sama tak kita perhitungkan, tapi bibirmu memintaku lagi dan kutahu, aku siap memberi.
Kulilitkan kedua lenganku pada lehermu, meniti baris-baris helai rambutmu. Aku mencoba menangkap segala aromamu yang bisa kujangkau dan tak bisa kutemukan wangi alkohol di antaranya. Wangi parfummu, wangi pipi, dan sampomu, semua menguar membentuk identitasmu, tapi tak kutemukan jejak anggur di antaranya. Asumsi-asumsiku akan ketidaksengajaanmu menjadi luntur, digantikan sejuta kata 'mungkinkah'